Puisi 1 jam bersama rakyat

“ 1 jam bersama rakyat “
Berkacamatalah dengan pantatku
Namaku bukan untukmu
Tempatkanlah.
Di sisi mana.
Cari sendiri, kau bukan binatang
Tak perlu di atur seperti binatang
Cumi – cumi jalan miring
Kau lebih pandai dari cumi – cumi
Jalanmu lurus tapi berbau busuk
Lidahmu mengambang
Di lalap api kebohongan
Aku berdiri disini.
Menyaksikan dengan rakyat
Betapa indahnya tenggorokanmu
Berbicara tentang kebohongan
Perutmupun ikut bicaca
Penamupun ikut bicara
Jarimupun ikut bergerak
Kakimupun menyertainya.
Mata telinga mu pun jadi saksi
Mulutmu tidak bisa diam
Hambir sama dengan ketutku
Berbau busuk.
Pantatku lebih indah dari mulutmu
Aku berdiri.
Menyaksikan kepahitan rakyat
Aku pun tidak bisa berbuat apa – apa
Kalian lebih tau dari pada aku
Ini suara kami.
Meraung – raung
Tidak seperti kalian menjilat – jilat
Pantatku yang menjijikkan
Semoga kalian mendengar
Tak mengurusi perut kalian lagi
By : muara
15 October 2009

19 thoughts on “Puisi 1 jam bersama rakyat

  1. Pingback: PUISI CINTA PRAMBANAN | Puisi Puisi Indonesi

  2. Pingback: PUISI cinta di jari manismu. | Puisi Puisi Indonesi

  3. Pingback: PUISI Aku jatuh cinta padamu | Puisi Puisi Indonesi

  4. Pingback: PUISI CINTA TENTANG HUJAN | Puisi Puisi Indonesi

  5. Pingback: PUISI HATI SEPI | Puisi Puisi Indonesi

  6. Pingback: PUISI SMS Ketika kamu tertidur | Puisi Puisi Indonesi

  7. Pingback: PUISI CINTA DAN WAKTU | Puisi Puisi Indonesi

  8. Pingback: Puisi Selalu Ada Cinta | Puisi Puisi Indonesi

  9. Pingback: PUISI GOMBAL meminjamkan cantik pada senja | Puisi Puisi Indonesi

  10. Pingback: PUISI Matahari selalu meyakinkan kita | Puisi Puisi Indonesi

  11. Pingback: puisi rindu kekasih | Puisi Puisi Indonesi

  12. Pingback: Sampai kapan aku harus begini | Puisi Puisi Indonesi

  13. Pingback: Adalah cinta bergelora | Puisi Puisi Indonesi

  14. Pingback: Menulis Seperti Rindu | Puisi Puisi Indonesi

  15. Pingback: Puisi Embun yang Jatuh Tanpa Ragu | Puisi Puisi Indonesi

  16. Pingback: Selalu Ada Puisi Untukmu | Puisi Puisi Indonesi

  17. Pingback: Melukis Puisi di Matamu | Puisi Puisi Indonesi

  18. Pingback: menetes ke dalam puisi. | Puisi Puisi Indonesi

  19. Pingback: Malam ini kubangun mimpi | Puisi Puisi Indonesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s